وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُDan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah: 163)
وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ
Referensi: https://tafsirweb.com/640-surat-al-baqarah-ayat-163.html
Referensi: https://tafsirweb.com/640-surat-al-baqarah-ayat-163.html
Tauhid secara bahasa memiliki arti menegaskan, namun secara istilah syar'i tauhid adalah hanya menjadikan Allah ﷻ sebagai tuhan yang pantas untuk disembah. Makna ini menuntut kita untuk memurnikan seluruh peribadatan hanya kepada Allah ﷻ, tidak ada sekutu baginya.Sebagai seorang muslim kita wajib mentauhidkan Allah ﷻ dalam segala kondisi.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Makna ini tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya” (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39).
"La ilaaha illallah" (Tidak ada sesembahan selain Allah) merupakan kalimat tauhid. Dalam memahami dan meyakini tauhid ini, maka tauhid dibagi menjadi tiga bagian, yaitu
- Tauhid Rububiyyah
- Tauhid Uluhiyyah
- Tauhid Asma' wa Shifat
Pembagian
tauhid menjadi tiga ini bukan berdasarkan logika manusia, akan tetapi
pembagian tauhid menjadi tiga disimpulkan dari kajian dan telaah
terhadap dalil-dalil yang berasal dari Al-qur'an atau yang dikenal
dengan istilah "Istigra'".
- Tauhid Rububiyyah
Tauhid rububiyyah memiliki arti mentauhidkan Allah
ﷻ sebagai pencipta, yang memberi rizki, yang menghidupkan dan mematikan
makhluknya, serta Dia adalah raja, penguasa, yang mengatur segalanya.
Tauhid Rububiyyah ini diakui oleh semua orang. Tidak ada ummat manapun yang
menyangkalnya. Bahkan hati manusia sudah difitrahkan untuk mengakui-Nya,
melebihi fitrah pengakuan terhadap yang lain-Nya. Sebagaimana perkataan para
Rasul yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala:
قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Berkata rasul-rasul mereka, ‘Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah,
Pencipta langit dan bumi?’…” ( Ibrahim: 10 )
Adapun orang yang paling dikenal pengingkarannya adalah Fir’aun. Namun
demikian di hatinya masih tetap meyakini keberadaan Allah. Sebagaimana
perkataan Musa Alaihissallam kepadanya:
قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَٰؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا
“Musa menjawab, ‘Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tidak ada yang
menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi
sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, wahai
Fir’aun, adalah seorang yang akan binasa.’” (Al-Israa:102)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menceritakan tentang Fir’aun dan kaumnya:
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا
“Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan ke-sombongan (mereka),
padahal hati mereka meyakini (kebenaran)-nya…” (An-Naml: 14)
Jadi tauhid rububiyyah ini sudah menjadi fitrah bagi semua manusia bahwa Allah ﷻ adalah pencipta.
- Tauhid Uluhiyyah
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut…”.
Secara jelas Allah ﷻ memerintahkan manusia untuk menyembah Allah ﷻ saja, tiada sekutu baginya.
Tauhid uluhiyyah ini penting, karena apabila seorang manusia meyakini bahwa tuhan dia adalah Allah ﷻ akan tetapi dalam beribadah dia masih bergantung kepada selain Allah ﷻ dan tidak memurnikan ibadah yang disyariatkan hanya kepada Allah ﷻ, maka dia termasuk ke dalam golongan orang-orang musyrik.
Perhatikanlah, sungguh aneh jika ada sekelompok ummat Islam yang sangat bersemangat menegakkan syariat, berjihad dan memerangi orang kafir, namun mereka tidak memiliki perhatian serius terhadap tauhid uluhiyyah. Padahal tujuan ditegakkan syariat, jihad adalah untuk ditegakkan tauhid uluhiyyah. Mereka memerangi orang kafir karena orang kafir tersebut tidak bertauhid uluhiyyah, sedangkan mereka sendiri tidak perhatian terhadap tauhid uluhiyyah??
- Tauhid Asma' wa Shifat
Allah ﷻ berfirman dalam qur'an surat Al-A'raf ayat 180 yang artinya
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam nama-namaNya nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”.
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam nama-namaNya nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”.
Kita wajib menetapkan sifat-sifat Allah ﷻ sesuai dengan apa yang Allah ﷻ tetapkan dan kita tidak boleh menyamakan sifat-sifat Allah ﷻ dengan manusia. Kita wajib mengimani dan kita sebagai sorang makhluk harus memutus hasrat dan ketamakan kita untuk mengetahui hakikat sifat Allah ﷻ, karena hal ini mustahil bisa dijangkau oleh akal manusia, karena akal manusia terbatas. Sebagai contoh dalam al-qur'an Allah ﷻ menyebutkan bahwa Allah ﷻ turun ke langit dunia diwaktu sepertiga malam terakhir, kita tidak boleh menyamakan hal ini dengan sifat turun yang dimiliki oleh manusia.
Kemudian wajib bagi kita untuk menyucikan Allah ﷻ dari segala sifat ketidaksempurnaan, namun disatu sisi kita tidak boleh menolak sifat Allah ﷻ yang Allah ﷻ kabarkan kepada kita. Sebagai contoh sederhana firman Allah ﷻ dalam surat Al-A'raf ayat 54 yang artinya
"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam".
Allah ﷻ menjelaskan bahwa Allah ﷻ berada tinggi di atas arsy, kita wajib meyakini sifat ini, dan kita wajib menyucikan Allah ﷻ dari segala kekurangan, jangan sampai kita menganggap Allah ﷻ berada di atas arsy seperti raja yang membutuhkan singgasana, sehingga jika singgasananya tidak ada maka rajanya akan jatuh, naudzubillah.
"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam".
Allah ﷻ menjelaskan bahwa Allah ﷻ berada tinggi di atas arsy, kita wajib meyakini sifat ini, dan kita wajib menyucikan Allah ﷻ dari segala kekurangan, jangan sampai kita menganggap Allah ﷻ berada di atas arsy seperti raja yang membutuhkan singgasana, sehingga jika singgasananya tidak ada maka rajanya akan jatuh, naudzubillah.
Itulah
penjelasan tauhid yang wajib kita imani. Seseorang muslim yang memiliki
tauhid yang menancap kuat di dalam hati insyaallah akan berbuah segala
kebaikan.
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
disimpulkan dari telaah dan kajian terhadap dalil-dalil dari Al-Qur’an, atau dikenal dengan istilah “istiqra’”.
Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/43836-pembagian-tauhid-menjadi-tiga-ide-siapa-bag-1.html
Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/43836-pembagian-tauhid-menjadi-tiga-ide-siapa-bag-1.html
Syaikh
Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Makna ini tidak tepat kecuali
diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu
yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya” (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39).
Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/6615-makna-tauhid.html
Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/6615-makna-tauhid.html
Syaikh
Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Makna ini tidak tepat kecuali
diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu
yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya” (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39).
Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/6615-makna-tauhid.html
Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/6615-makna-tauhid.html
Syaikh
Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata: “Makna ini tidak tepat kecuali
diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu
yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya” (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39).
Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/6615-makna-tauhid.html
Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/6615-makna-tauhid.html



No comments:
Post a Comment